Senin, 14 Desember 2009

PENGOLAHAN LIMBAH PLASTIK DENGAN METODE DAUR ULANG

PENGOLAHAN LIMBAH PLASTIK DENGAN

METODE DAUR ULANG

Akibat dari semakin bertambahnya tingkat konsumsi masyarakat serta aktivitas lainnya maka bertambah pula buangan/limbah yang dihasilkan. Limbah/buangan yang ditimbulkan dari aktivitas dan konsumsi masyarakat sering disebut limbah domestik atau sampah. Limbah tersebut menjadi permasalahan lingkungan karena kuantitas maupun tingkat bahayanya mengganggu kehidupan makhluk hidup lainnya. Selain itu aktifitas industri yang kian meningkat tidak terlepas dari isu lingkungan. Industri selain menghasilkan produk juga menghasilkan limbah. Dan bila limbah industri ini dibuang langsung ke lingkungan akan menyebabkan terjadinya pencemaran lingkungan.

Limbah adalah buangan yang dihasilkan dari suatu proses produksi baik industri maupun domestik (rumah tangga, yang lebih dikenal sebagai sampah), yang kehadirannya pada suatu saat dan tempat tertentu tidak dikehendaki lingkungan karena tidak memiliki nilai ekonomis.Jenis limbah pada dasarnya memiliki dua bentuk yang umum yaitu; padat dan cair, dengan tiga prinsip pengolahan dasar teknologi pengolahan limbah;

Limbah dihasilkan pada umumnya akibat dari sebuah proses produksi yang keluar dalam bentuk %scrapt atau bahan baku yang memang sudah bisa terpakai. Dalam sebuah hukum ekologi menyatakan bahwa semua yang ada di dunia ini tidak ada yang gratis. Artinya alam sendiri mengeluarkan limbah akan tetapi limbah tersebut selalu dan akan dimanfaatkan oleh makhluk yang lain. Prinsip ini dikenal dengan prinsip Ekosistem (ekologi sistem) dimana makhluk hidup yang ada di dalam sebuah rantai pasok makanan akan menerima limbah sebagai bahan baku yang baru.

Limbah Plastik

Nama plastik mewakili ribuan bahan yang berbeda sifat fisis, mekanis, dan kimia. Secara garis besar plastik dapat digolongkan menjadi dua golongan besar, yakni plastik yang bersifat thermoplastic dan yang bersifat thermoset. Thermoplastic dapat dibentuk kembali dengan mudah dan diproses menjadi bentuk lain, sedangkan jenis thermoset bila telah mengeras tidak dapat dilunakkan kembali. Plastik yang paling umum digunakan dalam kehidupan sehari-hari adalah dalam bentuk thermoplastic.

Seiring dengan perkembangan teknologi, kebutuhan akan plastik terus meningkat. Data BPS tahun 1999 menunjukkan bahwa volume perdagangan plastik impor Indonesia, terutama polipropilena (PP) pada tahun 1995 sebesar 136.122,7 ton sedangkan pada tahun 1999 sebesar 182.523,6 ton, sehingga dalam kurun waktu tersebut terjadi peningkatan sebesar 34,15%. Jumlah tersebut diperkirakan akan terus meningkat pada tahun-tahun selanjutnya. Sebagai konsekuensinya, peningkatan limbah plastikpun tidak terelakkan. Menurut Hartono (1998) komposisi sampah atau limbah plastik yang dibuang oleh setiap rumah tangga adalah 9,3% dari total sampah rumah tangga. Di Jabotabek rata-rata setiap pabrik menghasilkan satu ton limbah plastik setiap minggunya. Jumlah tersebut akan terus bertambah, disebabkan sifat-sifat yang dimiliki plastik, antara lain tidak dapat membusuk, tidak terurai secara alami, tidak dapat menyerap air, maupun tidak dapat berkarat, dan pada akhirnya akhirnya menjadi masalah bagi lingkungan. (YBP, 1986).

Plastik juga merupakan bahan anorganik buatan yang tersusun dari bahan-bahan kimia yang cukup berahaya bagi lingkungan. Limbah daripada plastik ini sangatlah sulit untuk diuraikan secara alami. Untuk menguraikan sampah plastik itu sendiri membutuhkan kurang lebih 80 tahun agar dapat terdegradasi secara sempurna. Oleh karena itu penggunaan bahan plastik dapat dikatakan tidak bersahabat ataupun konservatif bagi lingkungan apabila digunakan tanpa menggunakan batasan tertentu. Sedangkan di dalam kehidupan sehari-hari, khususnya kita yang berada di Indonesia,penggunaan bahan plastik bisa kita temukan di hampir seluruh aktivitas hidup kita. Padahal apabila kita sadar, kita mampu berbuat lebih untuk hal ini yaitu dengan menggunakan kembali (reuse) kantung plastik yang disimpan di rumah. Dengan demikian secara tidak langsung kita telah mengurangi limbah plastik yang dapat terbuang percuma setelah digunakan (reduce). Atau bahkan lebih bagus lagi jika kita dapat mendaur ulang plastik menjadi sesuatu yang lebih berguna (recycle). Bayangkan saja jika kita berbelanja makanan di warung tiga kali sehari berarti dalam satu bulan satu orang dapat menggunakan 90 kantung plastik yang seringkali dibuang begitu saja. Jika setengah penduduk Indonesia melakukan hal itu maka akan terkumpul 90×125 juta=11250 juta kantung plastik yang mencemari lingkungan. Berbeda jika kondisi berjalan sebaliknya yaitu dengan penghematan kita dapat menekan hingga nyaris 90% dari total sampah yang terbuang percuma. Namun fenomena yang terjadi adalah penduduk Indonesia yang masih malu jika membawa kantung plastik kemana-mana. Untuk informasi saja bahwa di supermarket negara China, setiap pengunjung diwajibkan membawa kantung plastik sendiri dan apabila tidak membawa maka akan dikenakan biaya tambahan atas plastik yang dikeluarkan pihak supermarket.

Pengelolaan Limbah Plastik Dengan Metode Recycle (Daur Ulang)

Pemanfaatan limbah plastik merupakan upaya menekan pembuangan plastik seminimal mungkin dan dalam batas tertentu menghemat sumber daya dan mengurangi ketergantungan bahan baku impor. Pemanfaatan limbah plastik dapat dilakukan dengan pemakaian kembali (reuse) maupun daur ulang (recycle). Di Indonesia, pemanfaatan limbah plastik dalam skala rumah tangga umumnya adalah dengan pemakaian kembali dengan keperluan yang berbeda, misalnya tempat cat yang terbuat dari plastik digunakan untuk pot atau ember. Sisi jelek pemakaian kembali, terutama dalam bentuk kemasan adalah sering digunakan untuk pemalsuan produk seperti yang seringkali terjadi di kota-kota besar (Syafitrie, 2001).

Pemanfaatan limbah plastik dengan cara daur ulang umumnya dilakukan oleh industri. Secara umum terdapat empat persyaratan agar suatu limbah plastik dapat diproses oleh suatu industri, antara lain limbah harus dalam bentuk tertentu sesuai kebutuhan (biji, pellet, serbuk, pecahan), limbah harus homogen, tidak terkontaminasi, serta diupayakan tidak teroksidasi. Untuk mengatasi masalah tersebut, sebelum digunakan limbah plastik diproses melalui tahapan sederhana, yaitu pemisahan, pemotongan, pencucian, dan penghilangan zat-zat seperti besi dan sebagainya (Sasse et al.,1995).

Terdapat hal yang menguntungkan dalam pemanfaatan limbah plastik di Indonesia dibandingkan negara maju. Hal ini dimungkinkan karena pemisahan secara manual yang dianggap tidak mungkin dilakukan di negara maju, dapat dilakukan di Indonesia yang mempunyai tenaga kerja melimpah sehingga pemisahan tidak perlu dilakukan dengan peralatan canggih yang memerlukan biaya tinggi. Kondisi ini memungkinkan berkembangnya industri daur ulang plastik di Indonesia (Syafitrie, 2001).

Pemanfaatan plastik daur ulang dalam pembuatan kembali barang-barang plastik telah berkembang pesat. Hampir seluruh jenis limbah plastik (80%) dapat diproses kembali menjadi barang semula walaupun harus dilakukan pencampuran dengan bahan baku baru dan additive untuk meningkatkan kualitas (Syafitrie, 2001). Menurut Hartono (1998) empat jenis limbah plastik yang populer dan laku di pasaran yaitu polietilena (PE), High Density Polyethylene (HDPE), polipropilena (PP), dan asoi.

Plastik Daur Ulang Sebagai Matriks

Di Indonesia, plastik daur ulang sebagian besar dimanfaatkan kembali sebagai produk semula dengan kualitas yang lebih rendah. Pemanfaatan plastik daur ulang sebagai bahan konstruksi masih sangat jarang ditemui. Pada tahun 1980 an, di Inggris dan Italia plastik daur ulang telah digunakan untuk membuat tiang telepon sebagai pengganti tiang-tiang kayu atau besi. Di Swedia plastik daur ulang dimanfaatkan sebagai bata plastik untuk pembuatan bangunan bertingkat, karena ringan serta lebih kuat dibandingkan bata yang umum dipakai (YBP, 1986).

Pemanfaatan plastik daur ulang dalam bidang komposit kayu di Indonesia masih terbatas pada tahap penelitian. Ada dua strategi dalam pembuatan komposit kayu dengan memanfaatkan plastik, pertama plastik dijadikan sebagai binder sedangkan kayu sebagai komponen utama; kedua kayu dijadikan bahan pengisi/filler dan plastik sebagai matriksnya. Penelitian mengenai pemanfaatan plastik polipropilena daur ulang sebagai substitusi perekat termoset dalam pembuatan papan partikel telah dilakukan oleh Febrianto dkk (2001). Produk papan partikel yang dihasilkan memiliki stabilitas dimensi dan kekuatan mekanis yang tinggi dibandingkan dengan papan partikel konvensional. Penelitian plastik daur ulang sebagai matriks komposit kayu plastik dilakukan Setyawati (2003) dan Sulaeman (2003) dengan menggunakan plastik polipropilena daur ulang. Dalam pembuatan komposit kayu plastik daur ulang, beberapa polimer termoplastik dapat digunakan sebagai matriks, tetapi dibatasi oleh rendahnya temperatur permulaan dan pemanasan dekomposisi kayu (lebih kurang 200°C).

Kamis, 10 Desember 2009

LAPORAN PENDAHULUAN TUMOR PARU

A. DEFINISI
Karsinoma Bronkogenik adalah tumor ganas paru primer yang berasal dari saluran nafas.
Di dalam kepustakaan selalu di laporkan peningkatan insiden kanker paru secara progresif, yang bukan hanya sebagai akibat peningkatan umur rata-rata manusia serta kemampuan diagnostik yang lebih baik namun oleh karena memang karsinoma bronkogenik lebih sering terjadi (Pengatar Ilmu Penyakit paru).

B. ETIOLOGI
Seperti kanker pada umumnya, etiologi yang pasti dari karsinoma bronkogenik masih belum diketahui, namun diperkirakan bahwa inhalasi jangka panjang dari bahan karsinogenik merupakan faktor utama, tanpa mengesampingkan kemungkinan peranan predisposisi hubungan keluarga ataupun suku bangsa/ras serta status immunologis. Bahan inhalasi karsinogenik yang banyak disorot adalah rokok.
Pengaruh rokok:
Bahan-bahan karsinogenik dalam asap rokok adalah antara lain : polomium 210 dan 3,4 benzypyrene. Penggunaan filter dikatakan dapat menurunkan resiko terkenanya karsinoma bronkogenik, namun masih tetap lebih tinggi dibanding dengan bukan perokok.

Didalam jangka panjang yaitu, 10-20 tahun, merokok:
1-10 batang / hari meningkatkan resiko 15 kali
20-30 batang / hari meningkatkan resiko 40-50 kali
40-50 batang /hari meningkatkan resiko 70-80 kali.

Pengaruh Industri
Yang paling banyak dihubungkan dengan karsinogenik adalah asbestos, yang dinyatakan meningkatkan resiko kanker 6-10 kali. Menyusul kemudian industri bahan-bahan radioaktif, penambang uramium mempunyai resiko 4 kali populasi pada umumnya. Paparan industri ini baru nampak pengaruhnya setalah 15-20 tahun.

Pengaruh Penyakit Lain
Tuberkulosi paru banyak dikaitkan sebagai faktor predisposisi karsinoma brinkogenik, melalui mekanisme hyperplasi – metaplasi - karsinoma insitu-karsinoma - bronkogenik sebagai akibat adanya jaringan parut tuberkulosis.

Pengaruh Genetik dan Status imunologis
Pada tahun 1954, Tokuhotu dapat membuktikan adanya pengaruh keturunan yang terlepas daripada faktor paparan lingkungan, hal ini membuka pendapat bahwa karsinoma bronkogenik dapat diturunkan. Penelitian akhir-akhir ini condong bahwa faktor yang terlibat dengan enzim Aryl Hidrokarbon Hidroksilase (AHH). Status immonologis penderita yang dipantau dari cellular mediated menunjukan adanya korelasi antara derajat deferensiasi sel, stadia penyakit, tanggapan terhadap pengobatan serta prognosis. Penderita yang energi umumnya tidak memberikan tanggapan terhadap pengobatan dan lebih cepat meninggal.

Klasifikasi berdasarkan histopatologi dengan menggunakan mikroskop cahaya biasa (WHO, 1977).
1. Karsinoma epidermois (Karsinoma Sel Skuamos).
2. Adeno Karsinoma
3. Small cell undiferentiated carcinoma (oat cell)
4. Large cell undeferentiated carcinoma.

C. PATOFISIOLOGI
Kanker paru-paru primer biasanya diklasifkasikan menurut jenis histologinya, semuanya memiliki riwayat alami dan respon terhadap pengibatan yang berbeda0beda. Walaupun terdapat lebih dari satu lusin jenis kanker paru-paru primer, namun kanker bronkogenik, termasuk keempat tipe sel yang pertama, merupakan 95% dari seluruh kanker paru-paru.
Berdasarkan pilihan pengobatan, maka karsinoma bronkogenik biasanya dibedakan menjadi kanker paru-paru sel kecil (SCLC) dan kanker paru-paru sel tidak kecil (NSCLC).

D. PATHWAYS
Bronchus (percabangan segmen atau subsegmen)

Trauma oleh arus udara ( Tar Rokok,paparan industri)

Bahan karsinogenik mengendap

Perubahan epitel silia dan mukosa/ulserasi Bronchus

Deskuamasi Produksi Mukus Me

Cell cadangan (reserve cell) basal mukosa bronchus Bersihan jalan nafas tidak efektif

Hyperplasi, metaplasi.

Cell Kanker

Manifestasi Klinis



Intrapulmoner Intratorasik Ekstrapulmoner Ektratorasik Non Metastatik Ekstratorasik Metastatik

Kanker lumen branchus

Proksimal Distal

Sumbatan parsial Bronkiektasis/Aktelektasis
atau total

Sesak nafas
(Wheezing) Gangguan Pertukaran gas

Pola Nafas tidak efektif

Intratorasik Ekstrapulmoner

Mediastinum



N. Frenikus N.Recurrens S. Simpatis VC. Superior Trachea Oesopagus Jantung

Paralises Paralises Sindrom Sindrom VC Sesak, Disfagia Gg.disf.
Diafragma Ch.vocalis Horner VC. Superior Atelektasis efusi Pkd.

Dispnoe Gg. Kom. Gg. Fungsi Oedema muka gg. Per Nutrisi Penurunan
Verbal. Penglihatan & lengan tukarn.gas krg.;kebut. Curah Jtng
Gg. Pola nafas





Ektratorasik Non Metastatik



Neuromuskuler Endokrin Metabolik Jaringan ikat & Tulang Vaskuler&Hematologi

Neuropatia Ca. Primitive Neural Crest hypertropi Pulmonary Migratory romboflebitis

Pe Growth Hormon

Jari Tabuh

Gg. Body Image
Ekstratorasik Metastatik

Sirkulasi Arterial

Hampir semua organ, t/u Otak, hati dan tulang

Ansietas Ancaman Kematian







E. DATA PENUNJANG
1. Radiologis
a. Massa Radiopaque di paru
b. Obstruksi jalan nafas dengan akibat atelektasis
c. Pneumonia
d. Pembesaran Kelenjar Hilar
e. Kavitasi
f. Tumor Pancoast.Ca. Bronchogenik yang terdapat disuperior pulmonary sulcus, pada apek lobus superior.
g. Kelainan pada pleura
h. Kelainan tulang

2. Bronkografi
Adapun gambaran bronkografi yang dianggap patognomonik adalah obstruksi stenosis irreguler, stenosis ekor tikus dan indentasi cap jempol.

3. Sitologi
Dahak yang representatif dapat diperoleh melalui batuk spontan, dengan bantuan aerosol ( 20% propylene glycol dalam larutan 10% NaCl. Dihangatkan sampai kurang lebih 45-50 C.)atau melalui bilasan/sikatan aspirasi bronkial.Tatalaksana pada Lung Cancer Detection Program di New York adalah sbb. Saliva dan post nasal discharge dikeluarkan dahulu, lalu penderita disuruh batuk dalam , dahak yang dihasilkan segera difiksasi, kesemuanya ini dilakukan pada 3 hari berturut-turut, sebaiknya pada pagi hari.

4. Endoskopi
Meliputi pemeriksaan laringoskopi dan bronkoskopi serta bilasan bronkial, kerokan/sikatan serta biopsi. Tujuan pemeriksaan bronkoskopi ( serat optik ) adalah:

a. Mengetahui perubahan pada bronkus akibat kanker paru.
b. Mengambil bahan untuk pemeriksaan sitologis.
c. Memperhatikan perubahan pada permukaan tumor/mukosa untuk
memperkirakan jenis keganasan.
d. Menilai keberhasilan terapi.
e. Menentukan operbilitas kanker paru.

5. Biopsi
Bahan biopsi dapat diperoleh melalui cara biopsi perkutaneus transbronkial ataupun open biopsi. Sedangkan bahannya dapat berupa jaringan kelenjar regional jaringan pleura ataupun jaringan paru.

6. Imunologi
Adanya korelasi yang negatif antara kanker dan reaksi imnunologi telah umum diketahui. Gangguan imunulogik terutama tampak pada Cell mediated immunity yang dapat ditunjukan melalui delayed hypersensitivity reaction yang jelak, toleransi terhadap skin graft, jumlah circulatory T cell yang renadh, serta transformasi limfosit invitro yang rendah. Pada saat ini pemeriksaan imunulogik lebih banyak berperan sebagai faktor prognosis daripada faktor diagnostik. Kesimpulan korelasi uji kulit dan tanggapan terhadap sitostatika :
a. Kurang dari 1,0 cm. : prognosa jelek, penyakit luas.
b. Kurang dari 2,5 m. ; prognosa lebih baik, penyakit terbatas, tanggap terhadap khemoterapi baik









F. KLASIFIKASI PENTAHAPAN KLINIK ( CLINICAL STAGING )
Berdasarkan TNM.
T= Tumor : N. : Nodul, yaitu kelenjar limfe M. : Metastase
1. T : T-0 : Tidak tampak tumor primer
T-1 : Diameter tumor kurang dari 3 cm. Tanpa invasi ke Bronkus
T-2 : Diameter tumor lebih dari 3 cm. Dapat disertai atelektasis atau pneumonitis , namun berjarak lebih dari 2 Cm. Dari Karina, serta belum adaefusi pleura.
T-3 : Tumor ukuran besar dengan tanda invasi ke sekitar ( dinding toraks , diafragma atau mediatinum )atau sudah berada dekat karina disertai efusi pleura.
N : N-0 : Tidak didapatkan penjalaran ke kelenjar limfe regional.
N-1 : Terdapat penjalaran ke kelenjar limfe hilus ipsilateral.
N-2 : Terdapat penjalaran ke kelenjar limfemediastinum atau kontralateral
N-3 : Terdapat penjalaran ke kelenjar limfe ekstratorakal.
M. M-0 : Tidak terdapat metastase jauh.
M-1 : Sudah terdapat metastae jauh ke organ-organ lain.
Berdasarkan TNM. Disusun pentahapan klinik sbb.
a. Karsinoma insitu : T-0, N-0, M-0 , namun sitologi sputum positif untuk sel ganas.
c. Tahap I. T-1, N-0, M-0, atau T-2, N-0, M-0
d. Tahap II. T-2, N-1,,M-0.
e. Tahap III: bila sudah terdapat T-3, N-2, atau M-1.


G. DIAGNOSA KEPERAWATAN
a. Bersihan jalan nafas tidak efektif, b/d peningkatan jumlah/perubahan mukus /viskositas sekret, keterbatasan gerakan dada, /nyeri, kelemahan,kelelahan.
b. Nyeri akut b/d invasi kanker ke pleura, dinding dada.
c. Pola pernafasan tidak efektif b/d obstruksi trakeobronkialoleh sekret, perdarahan aktif, penurunan ekspansi paru, proses inflamsi.
d. Kerusakan pertukaran gas b/d gangguan aliran udara ke alveoli atau ke bagian utama paru, perubahan membran alveoli ( atelektasis , edema paru , efusi, sekeresi berlebihan,/perdarahan aktif.
e. Ansietas b/d ketakutan /ancaman akan kematian , tindakan diagnostik, penyakit kronis.
f. Nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b/d intake inadekuat, peningkatan metabolisme, proses keganasan.
g. Gangguan body image b/d perubahan struktur tubuh.

H. INTERVENSI
Diagnosa Tujuan-Kriteria Intervensi Rasional
Bersihan Jalan nafas tidak efektif b/d peninjkatan jumlah/viskositas sekret, keterbatasan gerakan dada/nyeri, kelemahan/kelelahan. Bersihan jalan nafas efektif.
Kriteria ;
a. Menunjukan potensi jalan nafas.
b. Cairan sekret mudah dikeluarkan/dibatukan.
c. Bunyi nafas jelas.
d. Whezing(-)/berkurang 1. Auskultasi bunyi dada, untuk karakter bunyi nafas dan adanya sekret.


2. Bantu untuk nafas dalam efektif anjurkan batuk dengan posisi duduk.
3. Observasi jumlah dan karakter sputum/aspirasi sekret.
4. Lakukan penghisapan dengan menggunakan suction. Bila klien tidak dapat batuk.
5. Dorong masukan cairan/oral sedikitnya 2500 CC/hari dalam toleransi jantung.
6. Kolaborasi : Berikan/bantu dengan IPBB , spirometri, meniup botol
7. Gunakan oksigen humidifikasi/nebulizer ultrasonik . Berikan cairan tambahan melalui IV sesuai indikasi.
8. Berikan bronkodilator, ekspektoran, atau analgetik sesuai indikasi. Pernafasan bising, ronki, mengi menunjukan tertahannya sekret/obstruksi jalan nafas
Posisi duduk memungkinkan ekspansi paru maksinal, upaya batuk untuk membuang sekret..
Perubahan sekret menunjukan progresifitas penyakit.

Penghisapan dapat merangsang batuk efektif.


Hidrasio adekuat untuk mempertahankan sekret hilang/peningkatan pengeluaran.

Memudahkan pembuangan sekret.



Memberikan hidrasi maksimal/pengenceran sekret untuk meningkatkan pengeluaran

Menghilangkan spasme bronkus untuk memperbaiki aliran udara. Ekspektoiran meningkatkan produksi mu.kus untuk mengencerkan sekret.
Kerusakan pertukaran gas b/d gg. Aliran udata ke alveoli, perubahan membran alveolar kapiler ( atelektasis, oedema paru, efusi, sekresi berlebihan, perdarahan aktif ) Pertukaran gas efektif.
Kriteria :
GDA dalam batas normal,. Mebubjukan ventilasi adekuat
Menunjukan oksigenasi adekuat.
Menunjukan perbaikan distress pernafasan. Catat frekluensi dan kedalaman pernafasan , penggunaan otot bantu dan nafas bibir.
Auskultasi paru untuk penurunan bunyi nafas dan adanya bunyi tambahan krekels.

Observasi ferfusi daerah akral dan sianosis ( daun telinga, bibir, lidah dan membran lidah )
Lakukan tindakan untuk memperbaiki jalan nafas.




Tinggikan kepala/tempat tidur sesuai dengan kebutuhan.

Awasi tanda vital




Kaji tingkat kesadaran





Kaji toleransi aktivitas.






Kolaborasi:
Awasi seri GDA.




Berikan oksigen dengan metoda yang tepat.
Takhi[pnoe dan dispnoe menyertai obstruksi paru.

Area yang tak terventilasi dapat diidentifikasikan dengan tak adanya bunyi nafas.
Menunjukan hipoksemia sistemik.



Jalan nafas lengket/kolaps menurunkan jumlah alveoli yang berfungsi
Secara negatif mempengaruhi pertukaran gas.
Meningkatkan ekspansi dada maksimal, membuat mudah bernafas meningkatkan kenyamanan.
Tahkikardi/takhipnoe, dan perubahan pada TD. Terjadi seirng dengan perubahan asidosis.
Hipoksemia sistemik dapat ditunjukan pertamakali oleh gelisah dan rangsang disertai penurunan kesadaran.
Hipoksemia menurunkan kemampuan untuk berpartisipasi dalam aktivitas tanpa dispnoea berat, takikardia dan disritmia.

Hipoksemia ada pada berbagai derajattergantung pada jumlah obstruksi jalan nafas.
Memaksimalkan sediaan oksigen untuk pertukaran gas .
Pola nafas tidak efektif b/d obstruksi trakeobronkial oleh bekuan darah, sekret banyak ,peradarahan aktif, penurunan ekspansi paru, proses inflamsi. Pola nafas efektif.
Kriteria :
Frekuensi nafas dalam rentang normal
Suara paru jelas dan bersih.
Berpartisipasi dalam aktivitas. Kaji frekuensi , kedalaman pernafasan dan ekspansi dada., catat upaya pernafasan ( penggunaan otot bantu pernafasan )
Auskultasi bunyi nafas, dan catat adanya bunyi nafas.
Observasi pola batuk dan karakter sekret

Dorong dalam nafas dalam.dan latihan batuk.
Kolaborasi:
Berikan oksigen tambahan.


Berikan humidifikasi tambahan.



Bantu fisioterapi dada.



Siapkan/bantu bronkoskopi Kedalamam pernafasan bervariasi tergantung derajat gagal nafas., ekspansi pada terbatas terjadi pada atelektasis.

Perubahan bunyi nafas menunjukan obstruksi sekunder.
Kongesti alveolar mengakibatkan batuk kering/iritatif
Meningktkan banyaknya sputum.


Memaksimalkan pernafasan dan menurunkan kerja nafas.
Memberikan kelembaban pada membran mukosa dan membantu pengenceran sekret.
Memudahkan upaya pernafasan dalam. Meningktkan drainase sekret.
Kadang=kadang berguna untuk membuang bekuan darah, sekret serta membersihkan jalan nafas.
Nyeri b/d. invasi kanker ke pleura, atau dinding dada. Nyeri hilang/ berkurang
Kriteria
:Klien nampak rileks.
Kliuen dapat tidur.
Berpartisi dalam aktivitas. Tanyakan pasien tentang nyeri, Tentukan karaktersitik nyeri


Kaji pernyataan verbal dan non verbal nyeri pasien.

Evaluasi keefektifan pemberian obat
Berikan tindakan kenyamanan, ubah posisi, pijatan punggung dll.
Berikan lingkungan tenang.
Kolaborasi: Berikan analgesik rutin s/d indikasi.. Membantu dalam evaluasi gejala nyeri kanker yang dapat melibatkan visera, saraf atau jaringan tulang
Ketidaksesuaian antara verbal dan non verbal menunjukan.derajat nyeri
Memberikan obat berdasarkan aturan.
Meningkatkan relaksasi dan pengalihan perhatian..

Penurunan stress, menghemat energi
Mempertahankan kadar obat, menghindari puncak periode nyeri..
Ansietas b/d ancaman kematian, proses keganasan, Ansietas hilang/ berkurang
Kriteria
Klien tampak rileks
Klien dapat beristirahat.
Dapat bekerjasama dalam terapi.: Evaluasi tingkat pemahaman pasien/orang terdekat tentang diagnosa.

Akui rasa takut, masalah pasien, dan dorong mengekspresikan perasaan.
Kolaborasi :
Libatkan pasien/orang terdekat dalam perencanaan keperawatan
Pemahaman persepsi melibatkan susunan tekanan perawatan individu dan memberikan informasi.
Memberi waktu untuk mengidentifikasi perasaan.



Dapat memperbaiki perasaan kontrol.
Nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b/d intake kurang, peningkatan metabolisme, proses keganasan. Nutrisi terpenuhi.
Kriteria :
Menunjukan perubahan beratbadan.
Menunjukan perubahan pola makan.
Hb. Albumin dalam rentang normal. Catat ststus nutrisi pasien pada penerimaan, catat turgor kulit, berat badan dan derajat kekurangan berat badan
Pastikan pola diet pasien yang disukai/tidak disukai

Awasi pemasukan/pengeluaran dan berat badan secara periodik
Selidiki mual, muntah, anoreksia dan catat kemungkinan hubungannya dengan obat
Berikan periode istirahat sering.


Berikan perawatan mulut, sebelum dan sesudah tindakan pernafasan.
Berikan Diet TKTP.

Kolaborasi :
Rujuk ke ahli diet
Awasi pemeriksaan lab. ( BUN, protein serum, albumin Hb.)
Bila perlu berikan nutrisi parenteral. . Berguna dalam mengidentifikasi derajat kurang nutrisi dan menentukan pilihan intervensi.

Pertimbangan keinginan individu dapat memperbaiki masukan diet.
Mengukur kefektifan nutrisi dan dukungan cairan.

Mencari pemecahan masalah, untuk meningkatkan pemasukan nutrien.

Membantu menghemat energi., khususnya bila kebutuhan metabolik meningkat
Menurunkan perasaan tak enak, bekas sputum, obatmerangsang pusat muntah..
Memaksimalkan masukan nutrisi..


Nilai rendah menunjukan malnutrisi

Meningkatkan masukan nutrisi adekuat.



































DAFTAR PUSTAKA

Soeparman, 1990, Ilmu Penyakit Dalam Jilid II, Balai Penerbit FKUI., Jakarta.

Syaifuddin, 1992 Anatomi Fisiologi, untuk Perawat. Penerbit Buku Kedokteran EGC. Jakarta.

Doenges M. 1999, Rencana Asuhan keperawatan, Penerbit Buku kedokteran EGC. Jakarta.

Lynda Juall Carpenito 1999, Rencana Asuhan& Dokumentasi Keperawatan., Penerbit Buku Kedokteran EGC, Jakarta.

Rabu, 09 Desember 2009

ADVOKASI DALAM KESEHATAN

ADVOKASI DALAM KESEHATAN

A. PENGERTIAN ADVOKASI

Advokasi secara harfiah berarti pembelaan, sokongan atau bantuan terhadap seseorang yang mempunyai permasalahan istilah advokasi dalam bidang hukum tersebut dijadikan sebagai penasehatnya dan memperoleh keadilan yang sungguh-sungguhnya, maka advokasi dalam bidang kesehatan diartikan upaya untuk memperoleh pembelaan, bantuan atau dukungan terhadap program kesehatan.

Menurut Webster Encyclopedia advokasi adalah “Act of pleading for supporting or recomending active espousal” atau “tindakan pembelaan, dukungan atau rekomendasi.

Dukungan aktif

Menurut ahli “retorika” (Foss and fose, et al : 1980) advokasi diartikan sebagai upaya persuasi yang mencakup kegiatan penyadaran, rasionalisasi, argumentasi dan rekomendasi rindak lanjut mengenai sesuatu hal.


ADVOKASI

TUGAS

ADVOKASI

Disusun sebagai tugas penunjang mata kuliah Renval PKM

Dosen : Budi Com, S.Sos


Disusun oleh :

Yatin Budi Santoso

(A2A006030)

FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT

UNIVERSITAS KASIPAH

SEMARANG

2009

ADVOKASI DALAM KESEHATAN

A. PENGERTIAN ADVOKASI

Advokasi secara harfiah berarti pembelaan, sokongan atau bantuan terhadap seseorang yang mempunyai permasalahan istilah advokasi dalam bidang hukum tersebut dijadikan sebagai penasehatnya dan memperoleh keadilan yang sungguh-sungguhnya, maka advokasi dalam bidang kesehatan diartikan upaya untuk memperoleh pembelaan, bantuan atau dukungan terhadap program kesehatan.

Menurut Webster Encyclopedia advokasi adalah “Act of pleading for supporting or recomending active espousal” atau “tindakan pembelaan, dukungan atau rekomendasi.

Dukungan aktif

Menurut ahli “retorika” (Foss and fose, et al : 1980) advokasi diartikan sebagai upaya persuasi yang mencakup kegiatan penyadaran, rasionalisasi, argumentasi dan rekomendasi rindak lanjut mengenai sesuatu hal.

Menurut “John Hopkins (1990)” Advokasi adalah usaha untuk mempengaruhi kebijakan melalui bermacam-macam bentuk komunikasi persuasif, dengan menggunakan informasi yang akurat dan tepat.

Dapat diilustrasikan sebagai berikut :

PROSES DAN ARAH ADVOKASI


Istilah advocacy (advokasi) di bidang kesehatan mulai digunakan dalam program kesehatan masyarakat pertama kali oleh WHO pada tahun 1984, sebagai salah satu strategi global Pendidikan atau Promosi Kesehatan.

WHO merumuskan, bahwa dalam mewujudkan visi dan misi Promosi kesehatan secara efektif menggunakan 3 strategi pokok, yakni :

a. Advokasi

b. Dukungan sosial

c. Pemberdayaan masyarakat.

Strategi global ini dimaksudkan bahwa, dalam pelaksanaan suatu program kesehatan di dalam masyarakat, maka langkah yang diambil adalah :

a. Melakukan pendekatan atau lobying dengan para pembuat keputusan setempat, agar mereka ini menerima dan “commited, dan akhirnya mereka bersedia mengeluarkan kebijakan, atau keputusan-keputusan untuk membantu atau mendukung program tersebut. Kegiatan inilah yang disebut advokasi. Dalam pendidikan kesehatan para pembuat keputusan baik pusat maupun daerah.

b. Langkah selanjutnya adalah melakukan pendekatan dan pelatihan kepada tokoh masyarakat setempat, baik tokoh masyarakat formal maupun informal. Tujuan kegiatan ini adalah agar para tokoh masyarakat setempat ini mempunyai kemampuan seperti yang diharapkan program, dan selanjutnya dapat membantu dalam menyebarkan informasi program atau melakukan penyuluhan kepada masyarakat.

c. Petugas kesehatan bersama-sama tokoh masyarakat tersebut melakukan kegiatan penyuluhan kesehatan, konseling, dan sebagainya, melalui berbagai kesempatan dan media.

Tujuan kegiatan ini antara lain : meningkatkan pengetahuan, sikap dan perilaku masyarakat untuk hidup sehat. Dengan kata lain, menampilkan atau memperdayakan masyarakat dalam kesehatan.

Advokasi diartikan sebagai upaya pendekatan (Approaches) terhadap orang lain yang dianggap mempunyai pengaruh terhadap hasil keberhasilan suatu program atau kegiatan yang dilaksanakan

B. SASARAN ADVOKASI

Dalam advokasi sasarannya adalah para pemimpin eksekutif atau pengambil kebijakan (Policy makers) atau pembuat keputusan termasuk Presiden dan Legislatif dan para pimpinan sektor lain yang terkait dengan kesehatan di semua administrasi pemerintahan maupun swasta serta organisasi kemasyarakatan diberbagai jenjang administrasi pemerintahan (Tingkat pusat, propinsi, Kabupaten, Kecamatan dan Kelurahan).

Dimana sasaran primernya adalah masyarakat umum yang menjadi sasaran utama dalam setiap program kesehatan. Sedangkan sasaran sekundernya adalah para pembuat keputusan dalam program kesehatan baik ditingkat pusat maupun daerah.

C. ARUS KOMUNIKASI ADVOKASI KESEHATAN


Dalam advokasi peran komunikasi sangat penting, seba dalam advokasi merupakan aplikasi dari komunikasi inter personal maupun massa yang ditujukan kepada para penentu kebijakan (policy markers) atau para pembuat keputusan (decission makers) pada semua tingkat dan tatanan sosial.

Komunikasi dalam rangka advokasi kesehatan memerlukan kiat khusus agar komunikasi tersebut efektif. Kiat-kiat agar komunikasi advokasi efektif antara lain sebagai berikut :

1. Jelas (clear) : Pesan yang akan disampaikan kepada sasaran harus disusun sedemikian rupa sehingga jelas, baik isinya maupun bahasa yang digunakan.

2. Benar (correct): apa yang disampaikan (pesan) harus didasar-
kan kepada kebenaran. Pesan yang benar adaJah pesan yang ;
disertai dengan fakta atau data empiris, atau berdasarkan ;
teori atau konsep yang sudah terbukti kebenarannya.

3. Konkret (concrete): apabila petugas kesehatan dalam advokasinya mengajukan. usulan program yang dimintakan dukungan dari para pejabat terkait, maka harus dirumuskan dalam bentuk yang konkret ("bukan kira-kira), atau dalam bentuk operasional.

4. Lengkap (complete): Timbulnya kesalahpahaman atau mis-
komunikasi adalah karena belum atau tidak lengkapnya
pesan yang disampaikan kepada orang lain. Demikian pula
dalam berkomunikasi dengan para pejabat tidak akan semu-
lus yang diharapkan. sering terjadi mis-komunikasi yang
mengakibatkan salah persepsi. yang akhirnya mengakibatkan
kurangnya dukungan terhadap program yang diusulkan. Oleh
sebab itu, pesan-pesan sebagai materi advokasi harus
disampaikan selengkap-lengkapnya.

5. Ringkas (concise): Pesan komunikasi harus lengkap, tetapi
padat, tidak bertele-tele. Pesan yang panjang penuh dengan
bumbu-bumbu, justru akan mengaburkan pesan itu sendiri.
Pesan komunikasi yang ringkas tetapi lengkap ini disebuti
pesan yang "padat".

6. Meyakinkan (convince): Agar komunikasi advokasi kita
diterima oleh para pejabat, maka harus meyakinkan.
Meyakinkan di sini, dalam arti orang yang melakukan
advokasi maupun pesan atau bahan advokasi yang disampai­
kan kepada para pejabat yang bersangkutan.

7. Kontekstual (contextual): Advokasi kesehatan hendaknya
bersifat kontekstual, artinya pesan atau program yang akan
diadvokasikan harus diletakkan atau dikaitkan dengan
masalah pembangunan daerah yang bersangkutan. Pesan-
pesan atau program-program kesehatan apa pun harus
dikaitkan dengan upaya-upaya peningkatan kesejahteraan
masyarakat Pemerintah Daerah setempat.

8. Berani (courage): Seorang petugas kesehatan yang akan
melakukan advokasi kepada para pejabat, harus mempunyai
keberanian berargumentasi dan berdiskusi dengan para pejabat yang bersangkutan. Agar advolator berani beradu argumentasi (bukan berarti bukan berarti kurang ajar atau sombong), maka syarat yang harus dipunyai adalah menguasai masalah-masalah yang terkait dengan bidangnya (dalam hal ini adalah kesehatan).

9. Hati-hati (coutious): Meskipun berani, tetapi harus hati-hati
dan tidak boleh keluar dari etika berkomunikasi dengan para
pejabat, hindari sikap "menggurui" para pejabat yang ber­
sangkutan.

10. Sopan (courteous): Disamping hati-hati, advokator harus ber-
sikap sopan, baik sopan dalam tutur kata maupun penam-
pilan fisik, termasuk cara berpakaian.

D. STRATEGI ADVOKASI

Di negara-negara berkembang khususnya, strategi advokasi sangat diperlukan, karena masalah kesehatan di negara-negara ini belum memperoleh perhatian secara proporsional dari sektor-sektor lain di luar kesehatan, baik pemerintah maupun swasta. Padahal masalah kesehatan ditimbulkan dari dampak pembangunan sektor lain. Untuk meningkatkan perhatian dan komitmen dari para pembuat keputusan dari sektor-sektor ini, diperlukan advokasi. Demikian juga strategi empowerment juga sangat diperlukan di negara-negara berkembang mengingat masyarakat di negara-negara berkembang pada umumnya masih jauh kemauan dan kemampuannya dalam mencapai derajat kesehatannya. Pemberdayaan masyarakat dari segala aspek kehidupan masyarakat pada prinsipnya bertujuan agar masyarakat mau kian mampu untuk mencapai derajat kesehatan. yang seoptimal mungkin.

E. TUJUAN ADVOKASI

Tujuan utama advokasi adalah untuk mendorong dikeluarkannya kebijakan-kebijakan publik oleh para pejabat publik sehingga dapat menyokong atau menguntungkan kesehatan. Misalnya; keluarnya Peraturan Daerah tentang menjaga kebersihan kota, yang memuat tentang peraturan-peraturan dan sangsi-sangsi apabila warga kota melanggar peraturan daerah tersebut.

F. PRINSIP ADVOKASI

Advokasi bukan sekedar melakukan lobi-lobi politik, tetapi mencakup kegiatan persuasif, memberikan semangat dan bahkan sampai memberikan pressure atau tekanan kepada para pimpinan institusi.

Untuk melakukan kegiatn advokasi yang efektif memerlukan argumen yang kuat, oleh karena itu prinsip advokasi ini akan membahas tentang tujuan, kegiatan , dan argumentasi-argumentasi advokasi.

Secara inklusif terkandung tujuan-tujuan advokasi, yakni :

1. Komitmen politik (political commitment)

komitmen para pembuat keputusan atau penentu kebijakan ditingkat dan di sektor mana pun terhadap permasalahan kesehatan dan upaya pemecahan permasalahan kesehatan tersebut.

2. Dukungan kebijakan (policy support)

dukungan konkret yang diberikan oleh para pimpinan institusi di semua tingkat dan semua sektor yang terkait dalam rangka mewujudkan pembangunan di sektor kesehatan.

3. penerimaan sosial (social acceptance)

diterimanya suatu program oleh masyarakat. Suatu program kesehatan apapun hendaknya memperoleh dukungan dari sasaran utama program tersebut, yakni masyarakat, terutama tokoh nasyarakat.

4. Dukungan sistem (system support)

adanya sistem atau organisasi kerja yang memasukkan unit pelayanan atau program kesehatan dalam suatu sektor pembangunan adalah mengidentifikasi adanya dukungan sistem.

G. METODE DAN TEKNIK ADVOKASI

Adapun metode atau cara dan teknik advokasi untuk mencapai tujuan antara lain :

a. Lobi politik (political lobiying

Lobi adalah berbincang-bincang secara informal denagn para pejabat untuk menginformasikan dan membahas masalah dan program kesahatan yang akan dilaksanakan. Tahap pertama lobi adalah : petugas kesehatan menyampaikan masalah kesehatan yang dihadapidi wilayah kerjanya, dan dampaknya terhadap kehidupan masyarakat.

b. Seminar dan/atau presentasi

Seminar atau persentasi yang dihadiri oleh para pejabat lintas program dan lintas sektoral. Petugas kesehatan menyajikan masalah kesehatan di wilayah kerjanya, lengkap dengan data dan ilustrasi yang menarik, serta rencana program pemecahanya.

c. Media

Melalui media cetak maupun media elektronik masalah kesehatan disajikan baik dalam bentuk artikel penyampaian pendapat dan sebagainya.

d. Perkumpulan (asosiasi) peminat.

Asosiasi atau perkumpulan orang-orang yang mempunyai minat atau interes terhadap permasalahan tertentu atau perkumpulan profesi, juga merupakan bentuk advokasi

H. ARGUMENTASI UNTUK ADVOKASI

Di bawah ini ada beberapa hal yang dapat memperkuat argumen dalam melakukan kegiatan advokasi antara lain:

1. Creadible

kredibilitas adalah suatu sifat pada seseorang atau institusi yang menyebabkan orang atau pihak lain mempercayainya atau meyakinkan. Karena advokasi bertujuan agar pihak lain, dalam hal ini para pembuat keputusan meyakini dan mendukung program kesehatan, maka orang yang akan melakukan advokasi (petugas kesehatan) harus creadible. Seseorang itu creadible apabila mempunyai 3 sifat, yakni:

a. capability (kapabilitas) yakni mempunyai kemampuan tentang bidangya.

b. Autority (otoritas) yakni adanya otoritas atau wewenang yang dimiliki seseorang berdasarkan aturan organisasi yang bersangkutan.

c. Intergrity (integritas) adalah komitmen seseorang terhadap jabatan atau tanggung jawab yang diberikan kepadanya.

Seseorang dikatakan credible apabila mempunyai ketiga sifat tersebut. Disamping orang atau subjek yang credible maka program kesehatan yang akan di advokasikan pun haruscredible. Artinya program yang ditawarkan atau di ajukan itu harus menyakinkan para penentu kebijakan atau pembuat keputusan.

Hal ini berarti bahwa program yang diajukan tersebut harus didasari dengan permasalahan yang utama dan faktual, artinya masalah tersebut memang ditemukan di lapngan dan penting untuk segera ditangani.

2. Layak

program yang diajukan tersebut baik secara teknik, politik, maupun ekonomi dimungkinkan atau layak. Secara teknik layak (feasible) artinya program tersebut dapat dilaksanakan. Artinya dari segi petugas yang akan melaksanakan program tersebut mempunyai kemampuan yang baik atau cukup.

3. Relevan (relevant)

program yang diajukan tersebut paling tidak harus mencakup 2 kriteria yakni: memenuhi kebutuhan masyarakat dan benar-benar memecahkan masalah yang dirasakan masyarakat.

4. Penting dan mendesak (urgent)

program yang diajukan harus mempunyai urgensi yang tinggi : harus segera dilaksanakan dn kalau tidak segera dilaksanakan akan menimbulkan masalah yang lebih besar lagi.

5. Prioritas tinggi (hight priority)

program yang diajukan tersebut harus mempunyai prioritas yang tinggi.agar para pembuat keputusan atau penentu kebijakan menilai bahwa program tersebut mempunyai prioritas tinggi, diperlukan analisis yang cermat baik terhadap masalhnya sendiri, maupun terhadap alternatif pemecahan masalah atau program yang akan diajukan.

I. LANGKAH-LANGKAH ADVOKASI

Dalam advokasi terdapat langkah-langkah sebagai berikut :

1. Tahap persiapan

persiapan advokasi yang paling penting adalah menyusun bahan (materi) atau instrumen advokasi. Bahan advokasi adalah : data informasi bukti yang dikemas dalam bentuk tabel, grafik atau diagram yang menjelaskan:

b. basarnya masalah kesehatan atau penyakit.agar masalah kesehatan atau penyakit tersebut mudah dipahami oleh para pembuat keputusan., maka data tersebut diperoleh dari suatu penelitian ilmiah.

c. Akibat atau dampak masalah (penyakit) tersebut terhadap kesejahteraan masyarakat adalah dalam bentuk dampak sosial dan ekonomi.damapk sosial penderita penyakit adalah terganggunya hubungan sosial penderita penyakit tersebut dengan orang lain atau masyarakat.sedangkan damapk ekonomi suati penyakit adalah cost atau biaya yang harus dibayar akibat masalah kesehatan atau penyakit yang bersangkutan. Dampak ekonomi akibat kesakitan dari penyakit tertentu dapat dihitung dari hilangnya produktivitas dan biaya pengobatan untuk penyakit yang bersangkutan.

d. Dampak ekonomi masalah kesehatan atau penyakit tersebut, yakni kerugian secara ekonomi dari masalah (penyakit ) tersebut bila tidak segera ditangani.

e. Program atau kegiatan yang diusulkan untuk menanggulangi masalah atau penyakit tersebut.

2. Tahap pelaksanaan

pelaksanaan advokasi sangat tergantung dari metode atau cara advokasi. Caraadvokasi yang paling sering digunakan adalah lobbi dan seminar atau persentasi.

3. Tahap penilaian

hasil advokasi yang diharapkan adalah adanya dukungan dari para pembuat keputusan , baik dalam bentuk perangkat lunak (software) maupun perangkat keras (hardware). Oleh sebab itu untuk menilai atau mengevaluasi keberhasilan advokasi dapat menggunakan indikator-indikator seperti di bawah inin:

a. software (piranti lunak) : misalnya dikeluarkannya:

o undang-undang

o peraturan pemerintah

o peraturan pemerintah daerah (perda)

o keputusan mentri

o surat keputusan gubernur/bupati

o nota kesepakatan (MOU) dan sebagainya.

b. hardware (piranti keras): misalnya:

o meningkatnya anggaran kesehatan dalam APBN atau APBD

o meningkatnya angaran untuk satu program yang diprioritaskan

o Adanya bantuan peralatan sarana atau prasarana program dan sebagainya.


DAFTAR PUSTAKA

http://syehaceh.wordprss.com/2008/05/13/advoksi-dalam-promkes 26 MEI 2009,

10:00 AM.

Notoatmodjo Soekidjo, 2003. pendidikan dan perilaku kesehatan . Jakarta. PT

RINEKA CIPTA